Senin, 27 Juli 2015

Untukmu ~

                                                            Untukmu

Di ujung sudut pena bertinta biru
Kutuliskan sebuah ceritera  tentang kau dan aku
Penuh debu haru biru dan cerita sendu
Dan tawa tangis semu tak palsu

Hai..
Kuingin sedetik saja menyapamu
Tuk sejenak obati rasa rinduku
Meski di sana tak ada jawaban
Setidaknya kau akan dengar

Lihatlah..
Jemariku mulai lelah tuk menggores tinta
Tangan ini sudah terlalu lama mengungkap lubuk hati
Airmatapun nyatanya tak bisa mengering
Namun, apalah daya hatipun tak lagi mampu berteriak

Semoga..
Semoga, semoga, dan hanya semoga
Yang sanggup mengantar selembar harapan dan lantunan doaku
Agar sampai padamu
Duhai sahabat terbaikku

~WNA~

Minggu, 05 Juli 2015

Aku menganggapnya tak biasa !

Pandanganku tertuju pada jam digital handphone yang menunjukkan pukul 23.02 WIB. Suasana malam ini masih diramaikan oleh suara tadarusan orang-orang di beberapa mushola di kampungku. Malam ini adalah bulan Ramadhan yang ke 16. Bulan purnama terlihat lebih anggun daripada bulan-bulan sebelumnya, mungkin ia ikut mempercantik lautan bintang di sekitarnya. Sepintas aku teringat hari kemarin dan beberapa jam yang lalu di hari ini. Ada apa  gerangan?
Rumahku sudah sepi, orang-orang sudah terlelap dalam mimpi masing-masing. Di sampingku, adik perempuanku juga sudah berselimut dan tertidur lelap. Sembari duduk manis di atas kasur empuk dengan ranjang yang sudah agak keropos, kucoba menulis sebuah note kecil di laptop kesayangan. Aku berinisiatif untuk menuangkan beberapa hal menarik yang telah terjadi beberapa hari belakangan. Beberapa menit kemudian, akupun mulai mencoba mengingat satu –persatu bagian yang menurutku berkesan.


Hal pertama^^

Aku dan ayah pergi mencari lokasi Bank Sinarmas, lebih tepatnya ATM Sinarmas. Bank Sinarmas yang biasa aku datangi dulu, entah sejak kapan berpindah tempat. Keluargaku pun juga baru sadar kalau bangunan yang dulu menjadi lokasi bank Sinarmas telah dibongkar. Akupun masih belum tahu lokasinya yang baru, maka kuputuskan untuk mencari alamatnya di internet. Siapa tahu disitu tertera alamat dan nomor telepon kantornya. Alhasil, iya aku berhasil mendapatkan alamat dan nomor teleponnya. Segera, aku dan Ayah pergi menghampiri alamat tersebut. Karena belum tahu persis lokasinya, sambil melambatkan kecepatan jarum speedometer, Ayah menyuruhku memperhatikan kanan-kiri jalan untuk mencari bank Sinarmas. Beberapa menit kami menyusuri jalan raya, dan tak satupun tanda-tanda menemukan bank itu. Sejenak kami beristirahat di bawah pohon rindang dan mencoba menghubungi nomor telepon bank Sinarmas. Tapi nyatanya, nomor tersebut tidak bisa dihubungi. Ada nomor telepon yang bisa dihubungi, namun kantornya berada jauh di kota. Yasudah, kami putuskan untuk berbalik arah dan menyusuri jalan yang sama tadi sambil mengamati tepi jalan, kalau-kalau mungkin kami kelewatan jalan. Di tengah perjalanan, Ayah menyuruhku untuk memberikan uang ke petugas kotak amal pinggir jalan. Berharap pertolongan Allah menghampiri kami. Beberapa menit kemudian aku teringat sesuatu. Ku suruh Ayah mengeluarkan ATM ku, di situ tertera “ATM bersama”. Astaghfirullah, mengapa tidak dari tadi aku lihat ATM ku, tahu begitu aku dan Ayah tidak perlu jauh-jauh mencari bank Sinarmas di tempat jauh, karena meskipun ATM beda bank, bisa diambil di ATM bank lain yang tidak sejenis. Kuucapkan syukurku kepada Allah yang telah membantuku dan Ayah menemukan jalan keluar atas kebingungan kami. Ingatlah bahwa pertolongan Allah akan selalu ada di saat hambanya kesulitan.


Hal kedua ^^

Ada hal yang cukup menarik bagiku di hari itu. Aku, adik, dan Ibu pergi ke pasar membeli kebutuhan tertentu. Pasar yang letaknya 15 menit dari rumahku itu, cukup ramai di bulan puasa ini. Maklumlah, banyak orang berbondong-bondong memborong baju lebaran, makanan, dan perlengkapan hari raya yang lainnya. Setelah berputar-putar berkeliling pasar, tak terasa peluh pun berjatuhan. Rasa dahaga juga mulai menyerang kami. Astaghfirullah, kami sedang puasa. Setelah mendapatkan apa yang kami butuhkan, bergegas kami menuju tempat parkir motor. Suasana siang itu panas dan penuh debu pasar beterbangan. Kamipun ingin segera pulang dan beristirahat di rumah. Sampai di rumah, ibuku menyadari sesuatu.”sadarkah kalian kalau kita tadi membeli 3 barang yang berbeda, di toko yang berbeda, dan harganya 65 ribu semua?”, tanya Ibu padaku dan adikku. Ya Allah, apakah ini hanya kebetulan belaka ataukah ada maksud tersirat di dalamnya? Wallahu A’lam. Mungkin bagi kalian tidak begitu aneh, tapi bagiku ini benar-benar aneh karena kisah orang yang melatarbelakangi cerita tersebut belum tentu kalian pahami.


Hal ketiga ^^

Kisah tentang keanehanku beberapa hari belakangan ini. Seringnya aku melihat jam digital di handphoneku menunjukkan angka yang sama. Ya, kalian biasa mengenalnya sebagai jam kembar. Misalnya 13.13, 10.10,dll. Sudah terhitung kira-kira 4 hari belakangan ini. Entah itu karena kebetulan atau apa tapi yang pasti aku sudah mulai tidak percaya yang namanya kebetulan. Hari ini saja, aku sudah menjumpai  empat kali jam kembar. Tiga diantaranya berturut-turut yakni jam 21.21, 22.22, 23.23. selain jam kembar, aku juga menemui jam dengan angka penunjuk jam dan menit yang berkebalikan, misalnya 21.12. inipun tidak hanya terjadi sekali, tapi beberapa kali. Kurasa hal ini unik. Namun, untung saja tidak ada jam 24.24, kalau ada memang kalian mau rotasi bumi menjadi 25 jam? Entahlah, ini sudah ada yang mengatur, Raja bumi dan langit. Semoga saja ini adalah pertanda yang baik di bulan Ramadhan yang suci ini.